Semangat Senguyun Majo Warnai Musim Panen Long Uli

not image

Memasuki bulan Februari, suasana di Desa Long Uli mulai ramai dengan aktivitas panen atau yang biasa disebut majo. Di beberapa ladang, masyarakat sudah terlihat memotong padi yang menguning, menandakan musim panen telah tiba.

Yang paling terasa adalah semangat senguyun majo, yaitu kerja panen yang dilakukan secara bergantian. Dalam satu kelompok senguyun, jumlahnya berbeda-beda. Ada yang berjumlah 12 orang, ada yang 7 orang, bahkan ada yang 4 orang. Semuanya tetap berjalan dengan penuh semangat dan kebersamaan.

Senguyun majo merupakan budaya yang sudah lama diwariskan. Cara kerjanya sederhana: hari ini kita membantu panen di ladang orang lain, dan di hari berikutnya mereka akan datang membantu di ladang kita. Dengan cara seperti ini, pekerjaan yang berat menjadi lebih ringan dan cepat selesai.

Selain meringankan pekerjaan, senguyun juga membuat suasana panen menjadi lebih hidup. Ada teman berbagi cerita, bercanda, dan saling menyemangati. Bekerja bersama di ladang orang lain membuat kegiatan majo tidak terasa membosankan seperti jika dikerjakan sendiri.

Menariknya, senguyun majo tidak hanya diikuti oleh satu kelompok usia saja. Terlihat ibu-ibu yang penuh semangat ikut senguyun, ada juga kelompok anak muda, bahkan senguyun campuran antara orang tua dan generasi muda. Hal ini menunjukkan bahwa semangat kebersamaan masih sangat kuat di tengah masyarakat.

Senguyun majo bukan sekadar kerja bersama, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan gotong royong masyarakat Desa Long Uli. Tradisi ini terus dijaga karena tidak hanya membantu dalam pekerjaan, tetapi juga mempererat hubungan antarwarga. 

Bagikan post ini: